Sebuah Kisah Yang Tak Sempurna


Source : Google

Cerpen - Setelah lulus kuliah di tahun 2004 aku langsung bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Jakarta Pusat, waktu itu bus TransJakarta belum beroperasi seperti sekarang dan hanya ada Bus Patas jurusan Kampung Rambutan - Kota yang menjadi andalanku untuk pulang dan pergi ke kantor. Di bus kota berwarna hijau inilah sebuah kisah indah bersamanya dimulai.

Sama seperti pagi sebelumnya, aku harus berlari sekuat tenaga untuk mengejar bus kota berwarna hijau yang sebentar lagi akan melintas di bawah jembatan penyeberangan terminal. Bus Patas bernomor 17 itu melayani satu jurusan dengan "seribu cerita indah" bersamamu, jika terlambat sedikit saja, maka terpaksa menunggu bus berikutnya yang berjarak 10-15 menit lagi itupun tetap penuh dan harus berdiri sampai di kantor.

Dengan sedikit terengah aku menaiki tangga bus yang penuh sesak, kalau biasanya aku naik dari belakang, kali ini aku bisa masuk dari pintu depan karena pintu belakang sudah tak dapat menampung orang lagi, setelah berusaha menyusup ke dalam bus akhirnya aku dapat tempat yang aman untuk berdiri.

Kuperhatikan satu persatu orang-orang yang duduk didepanku sambil mencari cowok berseragam putih yang selalu duduk di bangku ketiga dekat jendela, namanya Diaz. Kami sempat berkenalan beberapa waktu lalu demi menolong sahabatku Eliz yang ingin sekali mengenalnya.

Beberapa kali bertemu di bus, Eliz akhirnya terus terang kalau diam-diam ia ingin berkenalan dengan Diaz dan meminta tolong padaku untuk melakukannya. Akhirnya aku setuju dan berangkat lebih pagi agar bisa naik dari pool bus bernomor 17 itu, demi untuk menyampaikan pesan Eliz padanya.

Kami berjodoh, bisa naik bus yang sama dan bisa duduk bersebelahan dengannya. Aku mulai membuka percakapan dan Diaz pun menyambut baik, kukatakan padanya bahwa sahabatku ingin kenal dengannya, kamipun bertukar nomor telpon saat itu. Setiba di kantor, aku memberikan nomor telepon Diaz kepada Eliz dengan hati senang karena bisa membuat sahabatku bahagia.

Diaz sosok yang ramah dan enak diajak ngobrol, itu kesan pertama kali saat aku berbicara dengannya, Diaz pun tak langsung menolak ketika aku menyampaikan pesan dari sahabatku Eliz. Semoga kalian berjodoh nantinya, kataku didalam hati. Karena saat itu akupun sudah mengincar salah satu teman Diaz yang sering bareng denganku di bus hijau itu.

Waktu berlalu, memasuki tahun 2005 aku mulai jarang bertemu Diaz di bus nomor 17, hampir tiap hari aku mencarinya di dalam bus tapi dia tak ada, kemana dia? akhirnya Eliz bercerita kalau Diaz sudah tidak naik bus lagi dan memilih naik motor ke tempat kerjanya, entah kenapa aku merasa ada yang hilang di perjalanan pagiku sejak hari itu. Meskipun aku mulai dekat dengan Wisnu, teman satu kantor Diaz yang mulai rajin menelponku dan berangkat bersama dipagi hari.

Hingga suatu hari, Eliz mengajakku mampir ke Mall dekat kantor sepulang jam kerja bersama Tio, teman sekantorku dan ternyata ada Diaz juga yang sudah menunggu disana. Setelah ngobrol-ngobrol dan makan bersama kami harus berpisah karena hari sudah mulai malam. Eliz menyuruh aku pulang bersama Diaz karena rumah kami searah. Awalnya sih aku canggung apalagi belum pernah ada di posisi ini.

Perjalanan dari Mall ke rumahku memakan waktu sekitar 1 jam, sepanjang perjalanan kami ngobrol seru hingga lebih dekat satu sama lain, sejujurnya...Diaz ini sebenarnya tipe cowokku banget, selain cara berpikirnya "Smart" Diaz juga gentle, mau mengantarku sampai ke depan pagar rumahku dan sempat ketemu sama mamaku. Tapi Diaz kan gebetannya Eliz masa aku makan teman sendiri...sebuah peringatan segera membuyarkan pikiranku.

Saat diperjalanan tadi, aku juga sempat bercerita padanya kalau aku sedang dekat dengan Wisnu namun hanya sebatas berangkat bersama dan teleponan saja tidak lebih, reaksi Diaz saat itu sih hanya manggut-manggut saja ketika mendengar aku curhat abis-abisan tentang kebahagiaanku. Namun Wisnu tak se-asyik gayanya, dia terlalu cuek sementara aku terlalu berharap banyak padanya terutama perhatiannya. Akhirnya bye!

Hari-hari setelahnya, aku dan Diaz menjadi lebih akrab, sering pulang dan pergi bareng ke kantor atau ngobrol berjam-jam dengannya di telepon selular, Diaz itu humoris dan menyenangkan saat diajak ngobrol, kalo bahasa gaulnya sih "ilmunya tinggi" karena pembahasan apapun Diaz pasti bisa menjelaskan padaku. Meskipun lebih sering meledek ketimbang memuji aku tapi aku tetap nyaman. 

Sikap Diaz yang perhatian dan punya hobi doyan kuliner akhirnya membuatku semakin betah berada di dekatnya, rasanya tak terhitung berapa kali kami makan bersama di Warung Nasi Bebek, Steak kaki lima dan tempat favorit kami yang lainnya, receh sih tapi bahagianya masih ingin kurasakan hingga sekarang.

Kedekatan kami akhirnya membuat aku lupa untuk menanyakan bagaimana nasib hubunganya dengan Eliz, aku sudah terlalu nyaman di dekatnya, nyaman dengan semua perhatian yang ia berikan setiap saat. Termasuk semua yang pernah ia berikan dan aku simpan hingga kini.

Sebuah sweater hijau dan novel karya Habiburrahman El Shirazy masih tersimpan rapih setelah kupakai dan kubaca, belum lagi perhatian lainnya dari apa-apa yang aku suka hingga cerita-ceritaku ketika sedang patah hati, Diaz siap mendengarkan bahkan menjadi pelampiasanku saat aku kesal, ah Diaz...mungkin aku orang yang paling beruntung karena memiliki sahabat sebaik kamu. 

Melihat kedekatan kami, mama akhirnya bertanya tentang hubunganku dengan Diaz dan kujawab kami hanya berteman karena Diaz tak pernah menyatakan perasaannya padaku,  rasanya tak mungkin juga ada perasaan lain diantara kami karena apa yang kami jalani adalah murni sebuah persahabatan.


Sempat muncul pertanyaan begini dari mama, bisakah laki-laki dan wanita hanya sebagai teman dekat? awalnya aku menjawab bisa, namun setelah dijalani, ada perasaan lebih yang muncul diantara kami namun tak pernah bisa tersampaikan.

Aku tak menyalahkan Diaz sepenuhnya atas perasaannya padaku namun yang aku sesali adalah tak pernah satu kalipun aku bisa membalas kebaikan dan perhatiannnya saat kami masih bersama, bahkan ketika pacarku Ikbal datang melamar, aku tak memberitahunya sama sekali, tadinya aku pikir ini akan menjadi sebuah surprise untuknya karena aku akan segera menikah.

Hingga menjelang waktu pernikahanku tiba, Diaz menyampaikan perasaannya namun tidak secara langsung dan melalui sebuah pesan SMS, aku sama sekali tidak menggubrisnya karena sibuk mengurus pernikahanku yang akan berlangsung dalam waktu dekat, toh saat itu Diaz sudah memiliki Dian yang setia mendampingi dan menyayanginya saat itu. Diaz sempat berkata "aku akan tinggalkan Dian jika kamu juga melepaskan Ikbal". 

Ucapan Diaz hari itu sungguh membuatku kaget, tak pernah terpikirkan sebelumya kalau Diaz akan senekat itu untuk mengungkapkan niatnya, namun hari H sudah di depan mata  dan bagiku semuanya sudah terlambat, akhirnya aku begitu bahagia karena Diaz bisa hadir di acara terpenting dalam hidupku dan aku berharap hubungan kami akan selalu baik-baik saja.

Mungkin aku tak pernah tau bagaimana hancurnya hatimu saat itu, akupun sama sekali tak menyadari bahwa aku telah meninggalkan luka hati yang tak bisa disembuhkan hingga saat ini. Aku meminta Diaz berfoto bersama dengan kami dipelaminan, sambil kubisikkan ditelinganya sebuah candaan "ayo foto bareng aku untuk yang terakhir kalinya" namun suatu kehancuran baginya

Setelah menikah, aku masih sempatkan untuk bertemu dengannya beberapa kali saat pulang kantor, kami sengaja ingin mencoba bus TransJakarta yang saat itu sudah mulai beroperasi, situasinya masih seperti dulu, kami ngobrol, bercanda dan bercerita tentang banyak hal, hingga cerita pernikahannya yang akan dilangsungkan awal tahun depan, tentu saja aku bahagia dan berjanji akan hadir di hari pentingnya itu.

Aku juga mengenalkan Diaz kepada suamiku Ikbal dan mereka bisa berteman baik, satu kejadian yang selalu aku ingat di suatu pagi adalah ketika kami (aku dan Ikbal) sedang menunggu lampu merah dengan rasa tidak sabar karena Ikbal harus segera tiba dikantornya tepat pukul 06.00 pagi sementara harus tetap mengantarku juga ke pool bus kota yang berbeda arah, Diaz lah yang menjadi dewa penolong kami.

Melihat Diaz yang ternyata sejajar dengan kami di lampu merah, Ikbal langsung menitipkan istrinya kepada Diaz agar lebih menghemat waktu, ya saat itu juga dari boncengan motor Ikbal aku pindah ke motor Diaz, entah apa yang terpikir oleh orang-orang disekitar kami ketika melihat kejadian itu.

Lampu hijau akhirnya memisahkan kami, aku melanjutkan perjalanan dengan Diaz menuju ke kantor.  Ikbal melajukan motornya kearah yang berbeda. Ndilalahnya...pertemuan kami dan Diaz di lampu merah itu tidak terjadi sekali tetapi beberapa kali, tanpa direncanakan. 

Kini, setelah 14 tahun berlalu...

Hubungan persahabatan kami pun masih seperti dulu, masih awet dan terjalin dengan indah, namun setelah resign dari kantor aku tidak bertemu lagi dengannya di jam kantor, jika waktunya senggang, Diaz sempatkan mampir kerumah untuk sekedar bersilaturahmi sambil membawa donat kacang kesukaanku.

Surprise sih buat aku, karena Diaz masih begitu perhatian kepadaku hingga hal-hal kecil yang tak pernah Ikbal berikan padaku, perlakuan istimewanya juga tak pernah berubah meskipun sudah 14 tahun berlalu. Dia masih meluangkan waktunya untuk menjemputku siang itu di sebuah tempat setelah selesai interview, siang itu juga kami menikmati momen berkendara roda dua seperti 14 tahun yang lalu.

Mungkin tak bisa kulukiskan kebahagiaanku saat itu namun mataku tak dapat berbohong, aku sungguh menikmati hari itu dan berharap bisa mengulang hari itu kembali. Mengulang rasa dag dig dug setiap kali menunggumu datang menjemput dan melihat senyummu lagi saat memberikan helm milik Dian untuk ku pakai.

Hingga kini selalu teringat sebuah kalimat yang pernah Diaz ucapkan, ada sebuah kado yang tidak pernah tersampaikan hingga kini, tentang perasaannya, cintanya yang begitu tulus dan perih hatinya yang mungkin tidak berdarah namun begitu menyakitkan baginya. Meninggalkan sebuah kisah yang tak pernah sempurna untuk kami, Maafkan aku Di!

Dear Diaz...melalui tulisan ini aku ingin menyampaikan beribu kata maaf untukmu atas semua ketidakpekaanku juga beribu rasa terimakasih untuk semua yang telah kamu berikan padaku. Tetaplah bahagia dengan apa yang kamu jalani sekarang, karena akupun akan merasa sangat bahagia ketika melihatmu bahagia. Mungkin permintaanku ini agak sedikit egois tapi tolong...jangan pernah pergi dari "sisiku" dan kehidupanku, tetaplah disini bersama hatimu yang dulu. 

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. kasian si Diaz
    "" Tuhan itu Maha Mengerti kadang ia membuat kita patah hati untuk menemukan yang sejati ""

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke www.indrifairy.com
Jangan lupa tinggalkan komentar ^_^

Postingan populer dari blog ini

Ciptakan Momen Liburan Seru Dan Menyenangkan Dirumah

Kemenkes RI Sosialisasikan Pentingnya Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)

Cari Kantong Stoma? Yuk Ke Yayasan Kanker Indonesia