Begini Rasanya Hamil Dan Melahirkan Bayi Seberat 5,1 Kg

"Hamilnya kok gede banget sih, udah mau lahiran ya?"

"Kalau dilihat dari bentuk perutnya, jangan-jangan bayinya kembar nih!"

"Duh ngilu banget deh lihat perutnya!" 


Dan terjadi lagi...(sambil nyanyi dengan gayanya Ariel), pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu saya dapatkan setiap kali keluar dari rumah untuk sekedar jalan pagi bersama pak suami. Hampir semua orang yang berpapasan dengan saya, selalu melirik ke arah perut hamil saya yang besar, padahal waktu itu baru masuk usia 7 bulan, tapi mungkin bentuknya sudah seperti hamil 9 bulan. Bulat dan besar hihihi....

Kejadian tersebut tak hanya terjadi didunia nyata, di dunia maya pun, komentar dan pertanyaan serupa selalu muncul di kolom komentar akun sosial media saya, ketika sesekali saya mengupload foto maternity disana. "Wah udah dikit lagi nih adek bayinya lahir", itu salah satu tebakan netizen ketika melihat perut buncit saya.

Pertanyaan dan komentar tersebut akhirnya membuat saya rajin bercermin sambil memperhatikan ukuran perut hamil saya yang memang begitu besar, apa benar ada dua bayi di dalam? Atau mungkin ada kelainan lainnya? Semoga saja sih tidak, karena dari semua hasil pemeriksaan dan pengecekan laboratorium kondisi kehamilan saya baik-baik saja.


Saya dan suami 

Tapi kalau boleh jujur, karena perut saya yang begitu besar ini, mobilitas saya memang berkurang, pinggang sering terasa sakit, bagian bawah perut juga terasa berat ketika dibawa berjalan. Awalnya saya berpikir semua ini disebabkan karena faktor usia, sehingga mudah lelah dan sebagainya tapi ternyata...bayi yang saya kandung tergolong giant baby alias bayi besar.

Hingga memasuki usia 8 bulan, saya dan suami memutuskan untuk melakukan USG 4 dimensi dengan tujuan agar lebih jelas dan lebih pasti seperti apa kondisi janin dalam kandungan saya saat itu. Sekaligus memastikan bahwa si jabang bayi betul-betul berjenis kelamin laki-laki (seperti harapan suami tercinta).

Hasil USG sore hari itu langsung menunjukkan secara jelas jenis kelamin dan bobot si bayi yang ternyata sudah memliki berat 3,8 Kg. Wow...! melihat BB bayi yang lumayan besar pada layar USG, saya sendiri tidak begitu kaget karena kedua kakaknya juga lahir dengan bobot yang besar dan berhasil dilahirkan dengan persalinan normal. 

Seperti kedua kakaknya, saya juga berharap dan berdoa, agar calon anak ketiga saya ini bisa lahir dengan persalinan normal, terlahir sehat dan sempurna tanpa kekurangan suatu apapun.

Demi memastikan semuanya baik-baik saja, saya menurut untuk mengkonsumsi buat bit secara rutin ketika dokter menyatakan kadar HB saya dibawah normal, meskipun rasa dan baunya benar-benar tidak bersahabat. Saya juga mengikuti semua anjuran dokter, termasuk mempersiapkan mental, fisik, dan budget ketika harus melahirkan di tengah pandemi.


Hasil USG di usia 8 bulan

Persiapan Melahirkan Di Masa Pandemi 

Yaps! begitu banyak hal penting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan ketika akan melahirkan di tengah pandemi, beberapa diantaranya adalah :

1. Wajib melakukan tes Rapid dan SWAB

2. Memilih tempat persalinan yang tepat dan mengutamakan protokol kesehatan

3. Menetapkan metode apa yang akan dipilih untuk melahirkan nanti, apakah persalinan Normal atau Cesar

4. Mempersiapkan budget lebih untuk biaya APD dan keperluan lainnya selama perawatan di Rumah Sakit

5. Persiapan mental yang kuat karena hanya pak suami yang bisa menemani kita selama di Rumah Sakit

Satu persatu persiapan tersebut saya penuhi sambil mengatur strategi agar budget yang saya punya dapat mencukupi. Untungnya saya menemukan sebuah pencerahan tentang bagaimana cara menghemat biaya melahirkan di masa pandemi dari sebuah artikel yang ada di situs parenting terbaik di Indonesia. Dan ketika urusan budget beres, tugas saya berikutnya adalah mempersiapkan mental dan fisik juga perlengkapan melahirkan yang akan dibawa saat proses bersalin nanti.


Hari Bahagia Itu Akhirnya Tiba 

Hari yang ditunggu akhirnya tiba, setelah merasakan kontraksi palsu berkali-kali, di pagi hari itu saya merasakan celana dalam saya basah diiringi dengan rasa mulas yang tak tertahankan. Suami langsung mengantar saya ke UGD Rumah Sakit untuk memeriksa kondisi saya, "Ketubannya sudah pecah bu, kalau saya lihat sudah buka'an dua" suara seorang bidan terdengar jelas di samping saya. 

Saya bahagia saat itu, sambil terus berdoa agar prosesnya dimudahkan oleh Allah SWT seperti ketika melahirkan kakak-kakak, saya juga sudah mempersiapkan tenaga untuk mengejan saat buka'an nya sudah lengkap nantinya. 

Detik demi detik, jam demi jam saya lalui dengan harap-harap cemas, apalagi jika teringat hasil USG 3 hari yang lalu, tentang bobot bayi saya yang rupanya semakin meningkat, dari 3,8kg hingga mencapai 4,4kg. 

Dengan bobot bayi yang begitu besar, saya sempat bertanya di dalam hati, apakah melahirkan bayi diatas 4 kilogram bisa secara normal? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada ibu dan bayinya jika dipaksakan? 

Ketika melihat dokter berbicara dengan suami saya, ketika itu juga saya mulai pasrah. Apapun proses dan caranya, saya berharap ibu dan bayinya sehat wal'afiat. Saya yakin Allah SWT selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya

Hingga sore berganti malam, saya masih merasakan mulas yang tak tertahankan di ruangan persalinan. Seorang suster dan bidan memasang infus ditangan kanan saya sekaligus memeriksa tensi dan detak jantung saya.


Arsya Lahir dengan Berat 5,1 Kg


Dari tangan suster lah, sebuah baju operasi diberikan kepada saya untuk dipakai saat itu juga. Saya melirik kearah suami saya, dia mengangguk sambil berkata, "Demi keselamatan kamu dan calon anak kita. Semangat ya sayang"

Sempat sedikit shock karena akhirnya bakal masuk ke ruang operasi juga, kepikiran cerita beberapa teman yang pernah melahirkan secara Cesar, menurut mereka kalau rasa sakitnya 2x lipat dari persalinan normal, saya langsung ciut. Apalagi ini menjadi tindakan operasi pertama seumur hidup hidup saya.

Tapi mau bagaimana lagi, siap enggak siap saya harus siap dan semangat. Meskipun buka'an sudah lengkap saat itu. Tangan suami terus menerus menggenggam tangan saya ketika brankar RS membawa saya menuju ruang operasi

Genggaman itu berganti menjadi sebuah doa dari suami tercinta ketika beliau hanya boleh menunggu diluar ruangan, dari senyumnya saya tau, semua akan baik-baik saja meskipun saya sendirian di dalam sana.

Tepat pukul 19.30 malam suara tangisan bayi memecah kesunyian di ruang operasi pada malam hari itu, saya lega dan bahagia sekali mendengarnya. Tangisannya yang lantang membuat saya yakin bahwa bayi yang saya lahirkan sehat dan kuat. Meskipun sebenarnya saya ingin sekali bertanya kepada dokter Nurul, bagaimana keadaan bayi saya.

"Selamat ya bunda, bayinya terlahir sehat dan sempurna". Ucapan selamat dari dokter Nurul diruangan operasi sayup-sayup terdengar ditelinga saya, begitupun suara tangisan Arsya, putra pertama yang lahir di keluarga Irfansyah pada tanggal 15 Juli 2020 lalu. 


Arsya kini sudah berusia 5 bulan

Pasca tindakan operasi, saya dibawa ke ruangan pemulihan selama beberapa jam, lalu pak suami dan suster mengantarkan saya ke ruang perawatan. Berkali-kali suami memeluk dan mencium saya karena dia begitu gembira. 

"Anak kita laki-laki Ma, dia sehat dan ganteng seperti papanya". Kami tertawa bersamaan, kemudian pak suami melanjutkan kalimatnya "Berat lahirnya juga luar biasa Ma, 5,1kg loh"

Saya sempat terbengong-bengong saat itu, sama sekali tak pernah menyangka bakal melahirkan bayi jumbo dalam hidup saya. Pantesan aja dokter dan suami saya memutuskan untuk melakukan bedah cesar karena jika dipaksakan melahirkan secara normal, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

Alhamdullilah rasa nyeri pasca operasi mulai terasa mendingan ketika bayi tidak mungil itu di satukan dengan saya dikamar, dia bukan hanya bayi yang tampan tetapi juga berbadan tegap dan tinggi.

Setelah menjalani perawatan 5 hari di Rumah Sakit, kami kembali pulang kerumah. Kedua kakak, nenek dan kakeknya dirumah menyambut kedatangan kami dengan penuh sukacita. Karena kehangatan dan dukungan mereka lah, perjalanan saya menjadi seorang ibu terasa menyenangkan dan luar biasa. Selanjutnya saya tinggal menikmati momen-momen luar biasa menjadi ibu dari 3 anak yang sehat dan lucu-lucu.

Saya dan Keluarga


Komentar

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke www.indrifairy.com
Jangan lupa tinggalkan komentar ^_^

Postingan populer dari blog ini

Bloggerday 2019 Bandung : Ketika 100 Blogger Berkumpul Di Ulang Tahun Bloggercrony Community

Cari Kantong Stoma? Yuk Ke Yayasan Kanker Indonesia

Danone Specialized Nutrition Indonesia Meluncurkan Laporan Berkelanjutan 2017-2018