Kamis, 15 November 2018

Komunikasi Dan Sosialiasi Keluarga, Kunci Utama Hadapi Revolusi Industri 4.0

 Ki-Ka) Bapak Pribudiarta, Roslina verauli, Bapak M Yani, Wildan (Moderator)

Seminggu yang lalu saya dan suami pergi berlibur bersama anak-anak, meskipun hanya menginap satu malam di Kota Bandung, waktu yang sebentar itu terasa sangat berkualitas, selain mencoba pemandian air panas dan mampir ke kebun strawberry, saya dan keluarga juga mencoba aneka kuliner di kota yang biasa disebut Kota Kembang tersebut. Ada yang istimewa di liburan kami kali ini karena mulai dari lokasi menginap hingga tempat-tempat wisata dan kuliner yang kami kunjungi adalah pilihan kedua putri saya. Lho darimana mereka tahu? darimana lagi kalau bukan dari acara televisi dan sosial media. 

Tayangan sebuah acara televisi dan akun youtube tentang objek-objek wisata dan kuliner nusantara sangat digemari kedua putri saya, sesekali jika smartphone saya tidak terpakai mereka langsung googling untuk mencari tahu lokasi tersebut, belum lagi jika di sekolah mereka beberapa teman bercerita tentang staycation bersama keluarganya, sesegera mungkin mereka cari tahu lokasi tersebut di Internet tanpa bertanya dulu kepada saya. Padahal sebagai orangtua saya ingin sekali mereka bertanya tentang segala hal kepada saya sebelum menanyakannya kepada Mbah Google. 



Komunitas Blogger Plus
Sebenarnya saya sudah membatasi penggunaan gadget kepada anak-anak, mereka hanya boleh bermain di Hari Sabtu dan Minggu selama 1 jam dan untuk tayangan televisi hanya 3 jam perhari sisanya untuk sekolah, belajar, les dan mengaji.Termasuk saat berlibur kemarin, saya dan suami sepakat "no gadget" dalam dua hari kedepan demikian pun anak-anak, tetapi lagi-lagi gagal karena kami merasa tak bisa hidup tanpa internet. Dari mulai mencari lokasi tujuan wisata, memesan makanan hingga membeli pulsa semua dilakukan melalui internet. 

Teknologi informasi seperti dua sisi mata uang, disatu sisi membawa manfaat kebaikan namun disisi lain juga berdampak buruk terlebih jika orangtuanya belum melek teknologi. Dari beberapa sumber yang saya baca, Internet Of Things adalah salah satu teknologi utama yang menopang pembangunan sistem industri 4.0 dan akan mengubah berbagai aspek dalam kehidupan manusia, termasuk komunikasi dalam keluarga. Sudah siapkah kita menghadapi dampak revolusi industri 4.0 ini?

Menurut Wikipedia Industri 4.0 adalah nama tren otomatisasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan dan komputasi kognitif.




Revolusi Industri 4.0 adalah harapan sekaligus tantangan bagi keluarga di Indonesia karena setiap keluarga dituntut untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang. Sosial media dan smartphone yang nantinya akan menjembatani komunikasi di dalam keluarga. Tidak ada lagi budaya makan bersama di meja makan, berkumpul di ruang keluarga atau berekreasi bersama keluarga. 

Menyadari hal tersebut, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera mengajak masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan di era industri 4.0 melalui orientasi keluarga berencana. Bersama para blogger, BKKBN menggelar diskusi untuk mengangkat isu utama yang saat ini sedang hangat diperbincangkan yaitu "Pembangunan Keluarga Di Era Industri 4.0" 

Bertempat di Kantor Pusat BKKBN Jakarta Timur, acara yang digelar pada Hari Rabu 14 November 2018 lalu menghadirkan 3 (tiga) orang pembicara yang akan mengupas tuntas bagaimana mengatasi tantangan yang akan terjadi di era industri 4.0, mereka adalah :
1. Bapak Dr.Pribudiarta Nur Sitepu MM, Sekretaris Kementrian Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak RI
2. Bapak Dr.dr.M.Yani M.Kes PKK, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera & Pemberdayaan Keluarga BKKBN
3. Ibu Roslina Verauli MPsi, Psikolog Anak, Remaja dan Keluarga





Pengertian keluarga menurut Psikolog Roslina Verauli adalah orang yang tinggal bersama dalam satu atap terdiri dari orangtua dan anak yang memiliki tujuan dan nilai kehidupan yang sama serta komitmen jangka panjang. Ada 3 (tiga) lingkaran yang akan menguatkan keluarga yaitu :

- Family Cohesion adalah kedekatan emosional yang dirasakan individu kepada setiap anggota keluarganya, cohesion melibatkan komitmen dan waktu yang diluangkan bersama
- Family flexibility adalah kemampuan untuk berubah dan beradaptasi
- Family Communication adalah berbagi informasi, ide, perasaan satu sama lain

Seperti kita ketahui bersama bahwa pembangunan keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam mencetak generasi yang akan mengisi ruang-ruang pembangunan di suatu bangsa. Peran penting orangtua sangat diperlukan disini, karena tugas orangtua adalah mengajarkan hal yang bermakna dan berharga agar anak-anaknya membawa manfaat bagi keluarga, bangsa dan negara. Kehadiran sosial media tidak selalu berdampak buruk bagi anak, karena orangtua bisa melakukan beberapa hal ini agar siap menghadapi tantangan teknologi di revolusi industri 4.0

1. Jadilah role model yang baik untuk anak karena seorang anak adalah peniru ulung orangtuanya.
2. Buat aturan atau larangan bermain gadget saat berkumpul di ruang keluarga atau saat berada di meja makan
3. Informasikan mana konten yang baik dan tidak baik, biasakan saring sebelum sharing
4. Pilih aktifitas outdoor dan libatkan anak dalam kegiatan sosial
5. Ajak anak melawan cyber crime
6. Jadikan media sosial sebagai sumber infomasi penting dan bermanfaat juga menjadi wadah untuk mengembangkan kreatifitas


Dampingi anak-anak kita saat berselancar di sosial media

Bapak Dr.dr.M.Yani M.Kes PKK, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera & Pemberdayaan Keluarga BKKBN juga menambahkan bahwa tidak hanya generasi yang cerdas, sehat dan pintar, tetapi generasi yang kita harapkan di masa depan juga harus berkarakter, tidak agresif dan tidak mudah terpengaruh. Salah satu wujud komitmen BKKBN dalam menghadapi dampak revolusi industri 4.0 terhadap keluarga adalah melakukan pendekatan siklus hidup di daerah terpencil dan terluar melalui penyuluhan di kampung-kampung KB dan mengajak masyarakat untuk ikut program KB agar penduduk tumbuh seimbang.

Family 4.0 yang dibuat oleh BKKBN adalah sebuah platform gerakan yang dapat mengarahkan semua pihak yang terkait dalam pembangunan keluarga untuk berkolaborasi menghasilkan output dan outcome keluarga berkualitas yang terukur dengan waktu yang relatif cepat dengan mengadaptasi semangat perubahan dari revolusi industri 4.0 

Kurangnya peran pemerintah dalam mempersiapkan pembangunan keluarga di era Industri 4.0 saat ini akan menurunkan kualitas keluarga di era milenial. Bapak Dr.Pribudiarta Nur Sitepu MM, Sekretaris Kementrian Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak RI menyampaikan bahwa pemerintah, swasta dan masyarakat harus berintegrasi dan berkolaborasi untuk menghadapi tantangan di revolusi industri 4.0 agar seperti apapun teknologi menghantam keluarga, setiap anggota keluarga akan tetap kuat. 

Lalu bagaimana tips making happy family 4.0 dari Mba Vera? yang pertama harus dilakukan oleh para orangtua adalah menggunakan pola pengasuhan yang tepat agar tidak timbul gangguan perilaku pada anak,  yang kedua adalah adanya komunikasi dan keterbukaan antara suami dan istri, yang ketiga adalah luangkan waktu bersama keluarga agar terjalin koneksi secara emosional dan yang terakhir adalah kembali ke meja makan. Sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya jika kunci dari keselarasan sebuah keluarga berada diatas meja makan, yuk ajak keluarga tercinta makan bersama!


Family Time
#revolusikeluarga4
#keluargaindustri4

24 komentar:

  1. Seru banget berlibur no gadget. Aku kalau liburan malah gadgetan, demi mengabadikan tempat tempat instagramable. duhhh parah ya. Pantes ponakan aku suka protes.
    Eh tapi biasanya selesai posting aku taro sih hp nya, terus main sama ponakan, dan dia akan tanya: udahan henponannya? ahahahahahaha

    BalasHapus
  2. Memang Family time harus berkualitas. Kalo cuma ngumpul dan bikin sakit hati pasti nggak bakal mau ngumpul lagi deh ��

    BalasHapus
  3. Family time harus berkualitas dan kuantitasnya juga dibanyakin ya mbak, jangan sampai keluarga mendapat waktu sisa dari aktivitas kita sehari-hari :)

    BalasHapus
  4. Kedekatan emosi ibu dan anak memang ada sejak dalam kandungan ya tapi buian jaminan juga hubungan ini akan tetap langgeng karena banyak juga anak perempuan yang musuhan justru sama ibunya. Makanya penting banget seisi rumah paham arti kedekatan.

    BalasHapus
  5. Biasanya liburan malah identik dengan gadget lho buat selfie dll
    Kalau bisa no gadget pasti makin seru ya kekeluargaannya

    BalasHapus
  6. Bun Indri mah keluarganya udah kompak banget kemana-mana selalu couple pantaslah jadi contoh nih. Buat calon pengantin menerapkan keluarga bahagia yang banyak waktu untuk keluarga.

    BalasHapus
  7. Berarti memang ada batasan penggunaan Gawai bagi anak ya, Saya setuju banget!

    BalasHapus
  8. keluarga indri mah selalu bareng dimana-mana, kompak selaluuu :)

    BalasHapus
  9. ketika ada perubahan memang peran orantua sangat penting, agar anak-anak tidak sibuk dengan gawai dan permainan lainnya

    BalasHapus
  10. Kalau keluarganya kakak mah aku udah yakin keluarga harmonis banget dan super big. Sudah siap memasuki era revolusi industri 4.0

    BalasHapus
  11. Internet tidak selamanya buruk ya bagi anak, sal orang tuanya tetap mengawasi, pinter bgt anakmu udh bs kasih rekomendasi tempat liburan, mereka pasti happy krn didengarkan orang tuanya.

    BalasHapus
  12. Dua sisi mata uang ada di mana-mana, tapi mungkin kerasa banget di bidang teknologi terutama gadget karena dipakai sehari-hari, ya.

    BalasHapus
  13. Seru juga ya traveling tanpa gadget jadi lebih menikmati kebersamaan dengan keluarga

    BalasHapus
  14. Gadget sangat berpengaruh y buat anak anak semoga k segi positif ya Bun ...oh y say pernah k kebun strawberry itu Lo , itu jg berkat gadget

    BalasHapus
  15. lucu banget, memangnya bisa hidup tanpa gadget keluarga mba indri? hehe.. keep positif aja, gadget bisa buat positif juga, asalkan penggunaannya tepat. idem, lagi usaha juga bih biar ngk bergantung banget

    BalasHapus
  16. Kalau mau anak anak gak maniak sama gadget, ortunya harus pinter pinter contohin berarti ya mbak. Hehehe. Semuanya berawal dari contoh dan teladan ortu juga

    BalasHapus
  17. Duh jadi pengen berlibur jg berburu strawberry. Btw kalau kompak enak ya mba....tapi kendala saya nih kalau anak sudah remaja, penuh perjuangan buat ajak jalan, apalagi makan bersama, semoga penerapan makan bersama bisa sukses dan berlanjut dgn baik

    BalasHapus
  18. Orang tua memang menjadi yang utama dalam membangun kedekatan dengan anak-anaknya.

    BalasHapus
  19. Tepat sekali karena bisa dikatakan keluarga adalah sekolah paling dasar pembentukan karakterstik seorang anak. Oleh sebab itu dlm membentukan generasi emas berkualitas perlu adanya pemahaman yg mendalam akan segala kemajuan teknologi yg ada

    BalasHapus
  20. Kembali ke meja makan untuk bisa memperbaiki komunikasi keluarga dan mengikat rasa cinta antara anggota keluarga ya bunsay.

    BalasHapus
  21. Aku lagi belajar konsisten nih tanpa gadget sama anak-anak tapi gimana ya haha.

    BalasHapus
  22. aku akan belajar berkomunikasi terhadap pasanganku aah...

    BalasHapus
  23. Ngobrol di meja makan tuh paling enak. Cerita bisa ngalir dari banyak pihak tapi ga nge-judge ya supaya siap hadapi revolusi industri 4.0

    BalasHapus
  24. Komunikasi penting dan utama sih klo mnrtku mah. Apalagi menghadapi industri 4.0 ini. Saat arus informasi mengalir sgt deras

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung ke www.indrifairy.com
Jangan lupa tinggalkan komentar ^_^