Ketika Bapak Divonis Tumor Buli

Assalamualaikum teman-teman, apa kabar? Semoga selalu sehat dan bahagia. Setelah satu bulan tidak menyentuh blog karena mengurus bapak dan pindahan rumah, tulisan ini akan menjadi tulisan pertama di tahun 2019. Ngomongin tahun baru, udah pada bikin resolusi belum nih? Kalo saya sendiri belum ada resolusi khusus, hanya ingin lebih sehat dalam segala hal, sehat badan, sehat relationship dan sehat keuangan di tahun 2019. Karena pengalaman tahun 2018 lalu menjadi tidak sehat itu sangat tidak enak.

Meskipun begitu, tahun 2018 begitu banyak memberikan pelajaran  dan pengalaman berharga untuk saya dan keluarga, terutama di penghujung tahun 2018 kemarin saat bapak sakit dan harus menjalani operasi pengangkatan saluran kemihnya di sebuah rumah sakit di Jakarta akibat penyakit Tumor Buli. Penyakit langka yang tak pernah kami duga akan bersarang di tubuh bapak.


Saya belajar untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana, mengelola rasa sabar lebih banyak, serta mengendalikan emosi agar lebih terkontrol. Bagaimana tidak, saya sangat diandalkan oleh bapak untuk menemani beliau melewati proses rawat jalan selama kurang lebih setahun belakangan hingga rawat inap dan 2x tindakan operasi. Menjadi saksi mata disaat-saat sulitnya dan harus menginap di rumah sakit tanpa ada yang bisa menggantikan.






Operasi pertama berlangsung di bulan Maret 2018, setelah 6 (enam) bulan sebelumnya bapak merasakan nyeri setiap kali buang air kecil bahkan seringkali urine yang keluar bercampur darah, awalnya kami pikir sakit yang diderita bapak hanya penyakit biasa dan bisa diatasi dengan obat-obatan ringan namun ternyata setelah berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Urologi dan melakukan USG (Ultrasonografi) akhirnya ditemukan sebuah benjolan di saluran kemih (kandung kencing) bapak, dokter memutuskan untuk melakukan pengerokan pada benjolan tersebut untuk mengetahui lebih lanjut ukuran dan tingkat keganasannya.



Bulan berikutnya dokter memberikan hasil pengerokan dan ditemukan sebuah tumor berdiameter 5 cm di buli-buli atau saluran kencing yang sudah memasuki stadium 3. Karena tempatnya di buli-buli, dunia kedokteran menyebutnya dengan Tumor Buli. Sebagai orang awam saya langsung konsultasi lebih intensif dengan pak dokter tentang seluk beluk penyakit ini, apa penyebabnya dan kenapa bisa terjadi pada bapak? Beginilah penjelasan pak dokter

Tumor Buli adalah adalah tumor yang biasanya berada dalam buli-buli (kandung kencing) dan menyerang organ vital. Beberapa hal yang menyebabkan penyakit ini adalah :

1. Seringnya menahan pipis
2. Konsumsi cairan yang rendah
3. Konsumi zat-zat kimia tertentu yang terkandung dalam minuman kemasan
4. Merokok
5. Zat kafein pada kopi, pemanis buatan
6. Mengkonsumsi obat-obatan jangka panjang

Dari beberapa penyebab tersebut, mana yang sering bapak lakukan? tanya saya kepada bapak, beliau menjawab nomor 1,2 dan 5. Seketika saya membayangkan keseharian bapak, perjalanan dari rumah di Cibubur hingga  kantornya di daerah Gatot Subroto saat pagi hari memang macet luar biasa, duduk terlalu lama di mobil tanpa ada cairan yang masuk ditambah harus menahan pipis hingga tiba di kantor dan itu berlangsung setiap hari selama bertahun-tahun. Wajar saja saat memasuki 63 tahun tubuhnya tak kuat lagi menahan semuanya.



Beberapa gejala yang sering dirasakan oleh bapak selama tumor buli tersebut ada didalam tubuhnya selama setahun belakangan adalah :

1. Terdapat darah dalam urin
2. Rasa nyeri saat buang air kecil
3. Sering buang air kecil pada malam hari
4. Buang air kecil mendesak/kebelet
5. Penurunan berat badan karena lidah yang terasa pahit dan tidak enak makan
6. Kaki bengkak
7. Hemoglobin menurun






Tanpa basi-basi lagi dokter menyampaikan pada kami bahwa ada 2 (dua) pilihan alternatif untuk mengatasi masalah ini yaitu Kemoterapi namun tidak menjanjikan tumor tersebut akan hilang dan yang kedua tindakan operasi pengangkatan tumor dimana kandung kemih bapak nantinya juga akan diangkat sehingga saluran kencing akan dipindahkan melalui ususnya. Astagfirullah membayangkannya saja tak sanggup. Dokter juga menyampaikan, untuk pasien grade 3 dan 4 sebanyak 5-15% presentasi kematian bisa terjadi saat operasi.


Sebelumnya saya tak pernah membayangkan kalau laki-laki yang selama 63 tahun ini selalu sehat dan aktif bekerja menderita penyakit yang lumayan langka di Indonesia. Bapak tak pernah mengeluh sedikitpun tentang rasa sakitnya, tetapi ketika melihat urine yang dikeluarkan terus-menerus berwarna merah kami pun sangat khawatir. Berat badan bapak berangsur menurun setiap bulannya, wajahnya pun tidak sesegar dulu. Melihat keadaan ini saya tak ingin tinggal diam, saya mengajak keluarga dan orang-orang disekitarnya untuk terus memberi semangat agar ia mampu melawan penyakitnya.


Bulan Agustus seharusnya kami kembali ke Rumah Sakit untuk menentukan jadwal operasi tapi bapak memilih untuk tidak kembali. Dia belum siap menghadapi kenyataan ini. Seorang rekan kerjanya memberikan informasi tentang sebuah pengobatan yang menggunakan metode terapi imun. Dengan semangat 45 kami mencari alamat tempat terapi tersebut dan menceritakan pada sang terapis tentang penyakit bapak termasuk keputusan dokter untuk melakukan pengangkatan saluran kencing bapak.


Sang terapis meyakinkan kami akan kesembuhan bapak tanpa harus melalui jalur operasi bedah dengan rutin mengkonsumsi obat-obatan yang mereka berikan. Setiap 1x kedatangan obat yang harus kami beli sekitar 2,8 juta - 4,8 juta. Dan setelah lebih dari 5x kedatangan tak ada perubahan ( masih terasa nyeri saat pipis dan ukuran tumor justru semakin membesar) akhirnya kami berhenti. Kami anggap belum berjodoh dengan pengobatan tersebut, uang belasan juta yang sudah kami keluarkan sama sekali tak membuahkan hasil.




Sejak saat itu akhirnya bapak menyerah dan meminta saya kembali mengantarnya ke Rumah Sakit untuk berkonsultasi dengan dokter urologi dan menentukan tanggal operasi. Dokter selalu mengingatkan agar tindakan operasi harus segera dilakukan sebelum ukurannya semakin membesar dan mengenai ginjal. Selama kami menghindar dari jalur medis dan mengambil jalur alternatif (selain terapi imun) ukuran tumor bapak justru semakin membesar.

Setelah bertemu dengan 5 (lima) orang dokter spesialis untuk mengecek kesehatan bapak (dokter paru, dokter jantung, dokter bedah digestif, anestesi dan dokter penyakit dalam),  jadwal operasi pun keluar. Bapak akan masuk ruang operasi pada hari Senin 17 Desember 2018 namun 5 hari sebelumnya bapak sudah harus dirawat inap. Untuk mengecek kondisi kesehatan, tekanan darah dan kesiapan mentalnya.

Senin 17 Desember 2018 operasi dimulai sekitar jam 09.00 dan berakhir jam 15.00. Selama 6 jam menunggu bapak, saya diminta ke Laboratorium Patologi sebanyak 2x, yang pertama untuk mengantar tumor yang sudah diangkat, bentuknya kecil, bulat, putih mirip seperti kacang sukro dan barang kedua yang saya bawa adalah kantong kemih bapak, berwana merah seperti gusi dan beratnya sekitar 2 kg, disitulah saya mendadak lemas. Menyaksikan salah satu organ vital orangtua saya sendiri diambil dari tempatnya demi membuatnya tetap sehat.

Pasca operasi saya tidak bisa langsung menemui bapak karena beliau berada di ruang ICU (Intensive Care Unit) untuk proses pemulihan, saya dan suami akhirnya menginap di emperan ICU bersama dengan keluarga pasien lain. Bercerita tentang penyakit yang dialami oleh keluarga masing-masing dan menangis bersama saat ada keluarga yang kerabatnya harus dipanggil lebih dulu setelah berjuang di dalam ruang ICU. Untunglah hanya semalam bapak disana dan pulih dengan cepat sehingga kami bisa kembali menemani bapak di ruang rawat.



Bagaimana kondisinya setelah operasi? Begitu banyak selang yang menempel pada tubuhnya dan bapak harus berpuasa selama 2 hari, bapak baru boleh minum air di hari berikutnya dan makan di hari ke enam setelah operasi. Sempat kejang dan tidak sadarkan diri sebanyak 2x, momen inilah yang membuat saya kuat karena bapak juga kuat dan tak pernah lupa istigfar setiap kali dia merasakan sakit yang luar biasa.

Selasa 25 Desember 2018 akhirnya dokter memperbolehkan bapak pulang kerumah, Alhamdulillah...melihatnya kembali ada dikamarnya saya merasa bahagia, apalagi kami tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun untuk biaya perawatan dan operasi bapak selama di Rumah Sakit karena ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Yang saya tahu biaya operasi untuk kasus bapak ini bisa mencapai 50 juta - 60 juta rupiah.

Terimakasih Allah SWT, terimakasih untuk team dokter dan terimakasih juga untuk papa Irfan, suami yang menginjinkan saya menginap di Rumah Sakit selama 14 hari bapak dirawat. Dan terimakasih banyak untuk teman-teman dan saudara yang meluangkan waktunya untuk menjenguk bapak saat di Rumah Sakit dan semua yang sudah mengirimkan doa-doanya. 

Sejak hari itu bapak harus menggunakan Urostomy Bag atau kantong yang ditempel pada lubang usus di perut sebelah kanan di kesehariannya, setiap 2 jam sekali kantong tersebut harus dikosongkan agar tidak pecah atau luber, jika rembes atau bocor, stoma bag tersebut harus segera diganti agar tidak terjadi infeksi. Lalu dimana bisa mendapatkan stoma bag? Tunggu tulisan saya selanjutnya ya...

Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan karena penyakit bukan hanya menyerang orang tua tetapi juga usia muda, meskipun penyakit ini seringnya terjadi pada pria namun bukan berarti wanita juga aman, karena sepertinya justru wanita yang lebih sering menahan pipis, betul apa betul?

Komentar

  1. Mba indri aku merinding bacanya, bahagia bapaknyabsudah sembuh, bahagia dan ngiri karena mba indri masih bisa merawat bapak, jadi kangen almarhum bapak, semoga bapak sehat terus ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...terimakasih doanya mba Hanni, jaga kesehatan ya

      Hapus
  2. Mengharukan. Gue nggak ngebayangin Bu Indri bawa kantong kemih seberat 2 kg itu. Pasti tega nggak tega. Syukurlah bapak udah di rumah kumpul lagi sama keluarga.

    BalasHapus
  3. Yang pertama sih bawa tumor enggak begitu mantull yg kedua itu lho lemes dengkul gue

    BalasHapus
  4. Ya Allah Ka indri...aku bacanya deg2an dan merinding sampai berkaca-kaca. Mendampingi Orang yang kita sayang harus berjuang melawan penyakitnya tentu nda mudah ya, alhamdulillah sekarang bapak udah melewati masa-masa kritisnya ya. Semoga makin sehat bugar setelah dioperasi ya.

    Pelajaran yang bisa dipetik jangan keseringan nahan pipis kadang kita sepelekan ini ya :( Makasih udah sharing ya ka!

    BalasHapus
  5. Betul nona, jangan suka menahan pipis dan lupa minum air putih

    BalasHapus
  6. Aku jadi tahu kalau tumor buli ini tumor di saluran kencing, soalnya sodaraku ada juga yang persis seperti bapak mak indri sakitnya dan di vonis sudah stadium 4. Semoga bapak lekas pulih ya mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...makasih ya mba Tuty, di saluran kecing bisa infeksi, kanker atau tumor mba penyakitnya

      Hapus
  7. Aku baru tau nama tumor yg ini mbak
    .
    .. subhanalah yaaaaa.... setuju mbak menjaga kesehatan itu gak pandang umur siapapun dr kecil remaja orangtua kita semua harus jaga kesehatan sedini mungkin

    BalasHapus
  8. Semoga bapak lekas sembuh ya Dri, pulih sedia kala. Alhamdulillah ada BPJS ya.

    Jadi pelajaran banget nih jangan suka nahan pipis dan hrs rajin minum air putih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke www.indrifairy.com
Jangan lupa tinggalkan komentar ^_^

Postingan populer dari blog ini

Ciptakan Momen Liburan Seru Dan Menyenangkan Dirumah

Kemenkes RI Sosialisasikan Pentingnya Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)

Cari Kantong Stoma? Yuk Ke Yayasan Kanker Indonesia